Pemilu legislative baru saja berlalu. Namun, masalah baru juga muncul mengiringi kesuksesan pelaksanaan Pemilu, Seperti contoh, Pusat tabulasi nasional Pemilu 2009 (Real Count) milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah diserang hacker selama 3 hari, namun kini sudah berhasil dideteksi sumbernya, lalu Ketua Tim IT KPU, Husni Fahmi, juga sudah melaporkan kasus ini kepada Telkom untuk memblokir alamat IP yang diketahui sebagai sumbernya. Hacker menyerang Real Count KPU dengan mengacaukan tampilan perhitungan suara, mengubah angka tabulasi data, dan mengubah tampilan website. Husni menyatakan bahwa IP hacker diketahui berasal dari pribumi, walaupun ia tidak menyebutkannya secara rinci.
Sementara itu, masalah lainnya berupa server yang lambat dan tiba-tiba macet. KPU kemudian memberikan alasan bahwa semua itu karena pihaknya kekurangan server, karena server yang dipakai sudah tua dan merupakan peninggalan dari Pemilu tahun 2004 lalu. Jumlah server yang dimiliki KPU hanya 6 unit, padahal KPU sudah menganggarkan dana sebesar 2.3 miliar untuk pemeliharaan server. Sedangkan pemenang tender server adalah PT Lapi Divusi dengan penawaran Rp 1,8 miliar. Oleh karena kekurangan server, situs tabulasi nasional Pemilu akhirnya mengalami down dalam beberapa jam setelah diluncurkan, sehingga publik pun kesulitan mengakses. Lalu untuk mengatasinya, KPU terpaksa meminjam 5 server tambahan dari BPPT.
Padahal dengan anggaran 1,6 miliar saja bisa diperoleh 30 server baru dengan storage 24 Terrabyte.
Sementara itu, masalah lainnya berupa server yang lambat dan tiba-tiba macet. KPU kemudian memberikan alasan bahwa semua itu karena pihaknya kekurangan server, karena server yang dipakai sudah tua dan merupakan peninggalan dari Pemilu tahun 2004 lalu. Jumlah server yang dimiliki KPU hanya 6 unit, padahal KPU sudah menganggarkan dana sebesar 2.3 miliar untuk pemeliharaan server. Sedangkan pemenang tender server adalah PT Lapi Divusi dengan penawaran Rp 1,8 miliar. Oleh karena kekurangan server, situs tabulasi nasional Pemilu akhirnya mengalami down dalam beberapa jam setelah diluncurkan, sehingga publik pun kesulitan mengakses. Lalu untuk mengatasinya, KPU terpaksa meminjam 5 server tambahan dari BPPT.
Padahal dengan anggaran 1,6 miliar saja bisa diperoleh 30 server baru dengan storage 24 Terrabyte.


